Tika and the Dissidents: The Beauty of No Expectations

She’s not just a singer. She’s an excellent singer—a diva, to be precise.
With that kind of quality, it should’ve been pretty easy for her to get signed by any huge record label (meaning: better exposure, better promotions, better—and bigger—financial backup), but she prefers to go the Do-It-Yourself way a.k.a. minimum wage, maximum work, more headache, less sleep.

Is she happy with what she’s doing?

You Gotta Dance with The Authentics

Sejarah terbentuknya kongegrasi ini dimulai pada 2005 ketika dua anak muda berselera musik seragam, Dawny & Arnold, bersepakat bersekutu di bawah nama The Authentics. Pemilihan titel band sedemikian rupa semata karena mereka menginginkan bunyi-bunyian yang otentik, merepresentasikan keaslian, sebagaimana para pengusung Ska di masa-masa awal. Sudah begitu, di era permulaan The Authentics kerap meng-cover lagu-lagu milik The Slackers, Hepcat, The Skatalites, dan serbaneka Ska tradisional. Namun dalam rentang evolusinya mereka kemudian mulai melebarkan jelajah musikalnya dengan menciptakan senandung yang lebih sederhana, mudah dicerna, kental nuansa bersenang-senang juga ramah-dansa alias danceable; tanpa sama sekali tercerabut dari akar Ska-Swing-Soul-Blues.

Lani Leyli

She’s a teacher, a model and a (great) singer.
She’s Australian who’s been living in Jakarta for quite a while now—and loves it so much.
Let’s hope she will stay longer—I bet some of the boys would prefer forever—in Indonesia.

Rockabali

Oleh Alfred Pasifico Ginting

Dari Bali mereka menolak keseragaman selera bermusik. Dengan tato, alkohol dan, simbol-simbol judi, memainkan Rockabilly lebih menarik minat wanita.

Kebangkrutan Aksara adalah Kebangkrutan Musik Indonesia?

Bicara dinamika musik di dalam negeri—apakah membaik meingindikasikan kemajuan, semata semenjana alias stagnan, atau malah total kemunduran—tampaknya bisa disimpulkan lewat dua fenomena yang lucunya terjadi di bulan paling akhir 2009, Desember.

Rock-n-Roll Exhibition: AYIP MATAMERA

Mungkin momen yang tak terjadi pada setiap orang bisa mengenal musik Rock semenjak usia 8. Dan lagi, yang dikenal adalah grup macam Alice Cooper, Uriah Heep, Led Zeppelin, dll seangkatannya di tahun 1978. Itu karena Oom saya yang nge-Rock abis dimana kita tinggal di Bandung

Sub Kultur Para Klandestin Flanel

Grunge sudah mati? Seattle Sound telah tamat? Mungkin iya. Bisa jadi benar. Sebab di manca negara gelinjang musik yang berporos di Pacific Northwest, Amerika Serikat,—utamanya Seattle—ini terkesan melempem, layu gairah, sempoyongan lalu pingsan. Kalau pun para pembesarnya masih bergentayangan di blantika cadas raya, gaungnya tak cukup signifikan, tipis nuansa kolektif, cenderung melenggang sendirian. Boleh dibilang dari kalangan pesohor berbusana flanel cuma tinggal Pearl Jam, Stone Temple Pilots, Mudhoney, dan Alice in Chains (formasi anyar) yang masih eksis. Sayangnya, umur panjang itu tak disangkutpautkan dengan pergerakan atau rejuvenasi Grunge. Sepak terjang Eddie Vedder dan Rekan dianggap nihil relevansi dengan so-called Seattle Sound

Rock-n-Roll Exhibition: STUART WILFORD

Edition: December 02, 2009

Rock-n-Roll Exhibition: STUART WILFORD
Gentlemen Take Polaroids

:: Playlist and notes, handpicked and written by Stuart Himself ::

…There have been a lot of influential songs over the past decades
and it’s hard to narrow it down to this many.

Half of the artists listed here could be an entire show in themselves,
but here they are, my Block Rockin’ Beats…

One-Hit Wonder

Masih ingat dengan Ice Ice Baby dari Vanilla Ice?

Atau dansa-dansi sejuta umat Macarena?

Atau Right Said Fred I’m Too Sexy, Afroman Because I Got High, Baha Men Who Let the Dogs Out, Blind Melon No Rain, Deep Blue Something Breakfast at Tiffany’s, juga yang lawas macam The Knack My Sharona, Nena 99 Luftballons, a-ha Take On Me, dan banyak lagi.

Fenomena artis yang bersinar cuma lewat satu lagu setelah itu kilapnya perlahan redup lalu sirna sama sekali, gejala macam begitu di industri musik diistilahkan dengan: One-Hit Wonder.

Rock-n-Roll Exhibition: RUDEBOY DODIX

Edition: November 11, 2009

Rock-n-Roll Exhibition: RUDEBOY DODIX
Roots, Rock & the Rebel Riddim: The Rude Guide to Jamaican-esque Sound System

:: Playlist, notes and photos, written and handpicked by Dodix Himself ::

…A two hour journey to the “one love” fuelled of tunes,
presenting not just the original gangsters and the plaid clad
but also the Indonesia’s most influential Ska — Dancehall – Rocksteady bands…..

User’s guide: just sway and smile and try to work out if you’re moving to
the one beat or the off beat or the bass line or the melody or any one of the many delay units…
’cause one of them is going to get you…

Rock-n-Roll Exhibition: JASON TEDJASUKMANA

Edition: November 18, 2009

Rock-n-Roll Exhibition: JASON TEDJASUKMANA
Green Leaves and Guitar Salvation

:: Playlist and song descriptions, handpicked and written by Jason Himself ::

Get In the Ring, Mick Wall!

Familiar gak dengan pidato—atau tepatnya caci maki—berikut:

“…And that goes for all you punks in the press
That want to start shit by printin’ lies
Instead of the things we said
That means you
Andy Secher at Hit Parader
Circus Magazine
Mick Wall at Kerrang
Bob Guccione Jr. at Spin,
What you pissed off cuz your dad gets more
pussy than you?
Fuck you
Suck my fuckin’ dick…”

Iya, tepat sekali, sumpah serapah di atas adalah penggalan dari tembang Get in the Ring dari Guns N’ Roses. Lagu yang aslinya ditulis oleh Duff McKagan—tadinya diberi judul Why Do You Look at Me When You Hate Me—dan merupakan bagian dari album Use Your Illusion II rilisan 17 September 1991 tersebut jelas sekali menggambarkan kekesalan Axl Rose dkk terhadap segepok media macam Circus, Hit Parader (khususnya Andy Secher), Kerrang (utamanya Mick Wall), serta Spin (yaitu Bob Guccione Jr.). Apa pasal?

Follow Instagram

Scroll to Top