WE DISCUSS

See you guys today, Saturday, at Rumah Sanur, at 4pm. Join me for a panel discussion regarding the marginalised in society, organised by Whiteboard Journal.

PENTINGNYA PENDIDIKAN LITERASI SEDARI DINI

Buruknya pendidikan dini literasi adalah satu problematika mendasar kenapa penduduk negeri ini mudah sekali manggut-manggut kagum dengan ocehan recehan dan bias dari Denny Siregar beserta panasbung bajer istana lainnya.

PENDIDIKAN KARAKTER KHAS INDONESIA: KEKERASAN

Munir, Marsinah, Udin, atau Wiji Thukul adalah nama-nama aktivis yang berjuang di jalur non-kekerasan. Semuanya mati atau hilang dan kasusnya gelap meski rezim berganti. Jadi pendidikan karakter kita sebagai bangsa memang kekerasan. Hanya jalan kekerasan yang diyakini bisa mengubah keadaan atau mendapatkan posisi tawar politik yang lebih baik.

Entah kini, cap jempol darah, Pasukan Berani Mati, atau Pam Swakarsa. Kita memanen apa yang kita tanam.

PENEGASAN SIKAP SOAL AKSI MAHASISWA

Berikut adalah penjabaran sudut pandang saya pribadi. Bahwa tiada niat menggagalkan pelantikan Jokowi—yang ingin melengserkan Jokowi itu Permadi. Saya dan yang pikirannya sejalan, tetap pada tujuh tuntuan seperti yang tertera di poster. Tiada yang lain-lain seperti yang dituduhkan.

Mahasiswa ditunggangi? Tidak. Mahasiswa tidak bodoh. Tepatnya: tidak sebodoh anda.

Kartu Saracen Pintar

Selamat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Baswedan serta Sandiaga Uno.

10 Argumen Kenapa Soeharto Tak Pantas Digelari Pahlawan Nasional

Tulisan berikut merupakan rangkuman ringkas dari artikel 10 Alasan Suharto Bukan Pahlawan Nasional yang dipublikasikan di berdikarionline.com. Saya improvisasi sedikit dengan menambahkan sepercik taburan opini pribadi di sana-sini.

10 Argumen Kenapa Suharto Tak Pantas Digelari Pahlawan Nasional:

1. Menjadi “operator” imperialis untuk gulingkan Soekarno.
Harto menggunakan dalih PKI dan hantu komunisme untuk menjungkalkan Soekarno.

2. Menghamba pada kapitalisme global.
Freeport, salah satunya, masuk dan mengisap habis Bumi Pertiwi akibat kemudahan dari Harto.

3. Pelanggar HAM berat.
Berkuasa selama 32 tahun — diktator! — nyaris tanpa hambatan karena apa? Harto melibas siapa pun yang menghalanginya. Petrus, DOM di Aceh, DOM di Papua, 27 Juli 1996, tragedi Trisakti. Harto adalah Eyang Genosida.

4. Memberangus demokrasi.
Kebebasan berserikat dan berkumpul ditindas. Kopkamtib dan Harmoko menjadi dua mesin pembunuh demokrasi bikinan Harto.

5. Melakukan depolitisasi.
Normalisasi Kehidupan Kampus. Mahasiswa dibungkam dibikin impoten gairah berpolitik. Parpol cuma boleh tiga — dan semuanya cuma boneka.

6. Terlibat KKN.
Harto merampok uang rakyat lewat beragam yayasan seperti Yayasan Supersemar, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, dsb. Itu si Tommy dan saudara-saudranya petantang-petenteng berlagak entrepreneur apa karena mereka pintar berwira usaha? Bukan. Itu karena bapaknya Raja Maling.

Speaker Separatis

Diserang culasnya wewenang, pulau ini siap berperang.

MBB Working for Colorful Indonesia

Perhaps the advent of social media opinion-purging makes a case feel more widespread than it is, but fundamentalism and proudly unadulterated discrimination seems to have done nothing but grow over the years.

Vive Le Banksy, Je Suis Charlie

Saya sering mendadak bingung—sehingga membuat saya segera meremas testikel sendiri—ketika, contoh paling aktual

Scroll to Top