EVOLUSI ROCKABALI: VEGAS DULU, UBUD KEMUDIAN

Rockabali—lakuran dari “Rockabilly” dan “Bali”—yang tadinya melulu mengkhusus pada sub kultur Rockabilly, pomade boogie, dan pompadour ‘n’ roll di Bali, kini maknanya telah berekspansi. Melebar menuju arus utama juga merangkul genre musik berbeda, berevolusi menjadi sebentuk budaya baru.

PADA PAGEBLUK INI, SKENA BALI PALING BERNYALI

Great art comes from great pain. Mungkin inilah fenomena yang sedang terjadi di skena musik Pulau Bali. Para seniman malah menjadi kian kreatif kala digencet nestapa. Musisi, terutama beberapa bulan belakangan ini, kembali meramaikan belantika. Entah merilis karya, entah konser virtual dan di jagat nyata. Faktor signifikan lain yang membuat kancah musik di Bali tetap tegar tentu saja karena ekosistem musik di Bali yang kokoh dan terbilang komprehensif, semua syarat telah komplet. Hantaman Covid-19 cuma menggoyahkan fondasi sementara. Cuma gegar sebentar, bukan ambruk.

Pompadour D’amour: Dari Rambut Turun Ke Hati

Jika seksama diperhatikan ada satu paguyuban senandung yang kiprahnya sedang moncer di skena musik alternatif Nusantara: The Hydrant. Selain merupakan pionir di kancah rockabilly negeri ini, terdapat pula hal unik yang menjadi ciri khas kuartet asal Bali tersebut yaitu rambut klimis dan rapi jalinya.

Follow Instagram

[instagram-feed num=10 cols=10 showfollow=false]
Scroll to Top