Edition: June 09, 2010
Rock-n-Roll Exhibition: RIDWAN RUDIANTO
Beats & Pieces
:: Playlist, intro, and song descriptions, written and handpicked by Ridwan Himself ::
Sebagian besar lagu di play list ini saya ambil dari koleksi CD yang banyak dibeli antara tahun 1996-1999.
Tidak banyak memori pribadi yang tersimpan, melainkan hanya rangkaian nada yang disusun baik untuk menciptakan mood yang khusus.
Pengalaman sulitnya merangkai, saya menemukan ada beberapa lagu favorit yang ternyata tidak bisa dilepas dari albumnya untuk dimasukkan ke playlist ini.
Mungkin di sana tangguhnya beberapa musisi menyusun tracklist album hingga kita tidak tega untuk mencomot setiap individual track-nya.
Pemilihan lagu juga mempertimbangkan faktor jam tayang acara di malam hari, karena ternyata tidak semua musik cocok di dengar di kala langit gelap
Demikian sudah, selamat malam, selamat menikmati.
DOMESTIC GROOVE ~ Celeb’s Chosen Seven is my biweekly column in The Beat (Jakarta) mag. Basically it’s an interview via e-mail which focuses on small, intimate, domestic stuff; what Indonesia’s public figures are really into, musically speaking.
For the fourth edition I went upclose-and-personal with Bondan Prakoso.
Tonite! Wednesday, October 20, 2010; 8-10 PM
Upcoming R-n-R Exhibition: VEROLAND
Chop-N-Roll: My On-The-Go Playlist
:: Introduction and playlist, written and handpicked by Vero Himself ::
Saya sangat kaget ketika membaca email dari Mr. Dethu kemarin yang mengingatkan saya harus mengirim list lagu-lagu pilihan saya dalam dua hari. Memang beliau sudah meminta saya dari beberapa bulan lalu, tapi somehow ada saja kerjaan yang mengganggu ketika saya mau mulai memilih lagu dari iPod model primitif saya.
Berikut adalah playlist dari on-the-go-2 dalam iPod saya yang layarnya penuh guratan dan bercak oli; sering dipasang di workshop saya, biasa terdengar di antara bunyi batu gerinda yang beradu dengan pipa baja, tumbukan palu yang menghajar plat aluminum setebal 2mm (lebay…).
Keras? Belum tentu, seperti halnya workshop saya yang kadang super berisik tapi kadang sunyi, pilihan musik saya tidak terpatok pada satu genre. Yang penting bagi saya, kadang bisa memompa semangat, tapi kadang juga menurunkan emosi ketika salah satu tukang las salah potong pipa.
♬ ♪ Radio streaming live http://army.wavestreamer.com:6356/listen.pls
For Indonesian version please click here
Not that long ago, local rock enthusiasts would only have dreamed of having an act like Smashing Pumpkins playing in Indonesia. To go to a Wolfmother gig in Jakarta, back then, you would never have thought possible. But these days, it is possible. And not just for the Pumpkins or Wolfmother, but also Muse, Korn, Avril Lavigne, 311, Placebo, Black Eyed Peas, Bjork, My Chemical Romance, NOFX, Belle & Sebastian, Stereophonics, Dashboard Confessional, too many more to mention, all of whom have played in big cities in Indonesia—mostly in Jakarta.
Indeed, these last few years, showbiz has become a big and upcoming trend. More people seem interested in doing it seriously. Local promoters/event organizers don’t really think twice anymore about bringing big name artists to Indonesia. The last gigantic music event, Java Rockin’Land, was so succesful—some said it attracted 50,0000 plus people. This fact brings even bigger hopes that showbiz has become stronger. It proves that showbiz in Indonesia is alive and kicking. Nowadays, music lovers have more and better options. Not only in Jakarta, but also in Bandung, Bali, and a few other areas in Java and Sumatera. Look at how dynamic the music scene is: October 24th sees Vampire Weekend at Bengkel Night Park and October 27th Hatebreed at Gelora Bung Karno (both in Jakarta), on November 10th Temper Trap will be in Bali’s Hard Rock Cafe before heading to Jakarta and Tokyo Police Club and Raveonettes will both play in Bandung mid November.
So, following all that, have you been dreaming about Iron Maiden coming to Indonesia? Quit dreaming. Bruce Dickinson and friends are coming to Jakarta and Bali in February of 2011. Get ready for the ticket race.
For Indonesian version please click here
Retro Jakarta outfit, White Shoes and the Couples Company, just released their third collection, Vakansi. According to Aprilia Apsari this album is much like a suitcase, a diary or a memory box that contains stories about traveling or a vacation trip, and day-to-day life with band members: Yusmario Farabi, Saleh Husein, Ricky Surya Virgana, Aprimela Prawidiyanti, and John Navid; collaborating, sharing experiences with legendary musicians such as Fariz RM, Riza Arshad and Olle Pattiselano, and also having fun with buddies such as Oomleo (who wrote “Kisah dari Selatan Jakarta”), Ade Firza Paloh (who wrote “Ye Good Ol’ Days”), and David Tarigan (who contributed lyrics for “Matahari”).
The album consists of 11 songs with David Tarigan as the producer, and all under a new label: Purapura Records.
Stay connected with what’s going on via their website http://www.whiteshoesandthecouplescompany.org
Tulisan—lebih tepatnya curhat—yang bermaksud menyemangati Jakarta Rock Parade ini sejatinya adalah materi lawas (tayang di Musikator pertama kali pada Juli 2009), walau pamali untuk dibilang usang. Memang, di kala itu belum ada konser rock lokal berskala gigantik. Belum ada yang nekat-berani mati menyelenggarakannya. Dan saya tidak rela jika Jakarta Rock Parade layu sebelum berkembang. Saya memimpikan Indonesia memiliki festival musik rock sekaliber Ozzfest. Syukurnya tidak lama berselang muncul kemudian Java Rockin’Land, yang bukan cuma bermutu tinggi, tapi juga termegah se-Asia Tenggara. Artinya spirit Jakarta Rock Parade menolak dimatikan. Yay.
Ya, artikel ini sengaja tetap saya tampilkan di situs pribadi saya ini demi mendokumentasikan perspektif yang pernah saya tuangkan agar menjadi lebih rapi, tak lagi berceceran tak beraturan, bisa menjadi arsip yang sahih lagi sinambung.
Setelah cabut dari Deep Purple, David Coverdale segera saja membentuk Whitesnake lalu berturut-turut merilis Snakebite serta Trouble di tahun yang sama, 1978. Namun dalam konteks sensasi—sanggup membelalakkan mata publik, to be precise—adalah karya mereka yang terbit pada 1979, Lovehunter.
Rilis pers mengenai album ke-6 kontingen green grunge gentlemen, Navicula, bertajuk Salto ini sejatinya adalah materi agak lawas (tanggal rilis: Juni 2009), walau pamali untuk dibilang usang. Sengaja tetap saya tampilkan di situs pribadi saya ini demi mendokumentasikan perspektif yang pernah saya tuangkan agar menjadi lebih rapi, tak lagi berceceran tak beraturan, bisa menjadi arsip yang sahih lagi sinambung.
Berikut adalah sebuah tulisan menarik oleh Eric Sasono, seorang kritikus film, yang dimuat di majalah Tempo edisi Maret 2010 silam. Eric, yang juga redaktur www.rumahfilm.org, menelisik isu linguistik, tentang seberapa “tembak langsung” judul film ini: Diperkosa Setan.
Memang, makin ke sini para penggiat film lokal tersimak makin berani. Tak hanya terang-terangan mengajakserta bintang film porno sebagai pemicu atensi—sudah pasti berujung riuh kontroversi—tapi juga blak-blakan di urusan memberi judul sinemanya. Eksotika bahasa, akrobat cantik demi menghasilkan titel yang bernas bahkan beradab bukan lagi menjadi prioritas. Komunikasi, antara pembikin dan penyuka film, cenderung satu arah, nihil basa-basi. Di perkara pemberian tajuk, yang lebih dikedepankan justru sisi sensasi. Jika di masa lalu masih mencoba berimprovisasi cukup sopan lalu menyorongkan sebatas Gairah Malam serta Ranjang Yang Ternoda, kini makin miskin estetika sama sekali. Coba perhatikan: Diperkosa Setan. Bukan mustahil dalam waktu dekat akan kian berani lagi, tiada tedeng aling-aling lagi, bombastis skala paling maksi: Disodomi Genderuwo.
Edition: March 17, 2010
Rock-n-Roll Exhibition: ARIBOWO SANGKOYO
Nyanyikanlah Hidup Kita!
:: Playlist, intro, song descriptions, and (most) photos, written and handpicked by Ribosa Himself ::
Saya bersaksi bahwa tiada hidup selain musik dan
saya bersaksi bahwa lagu-lagu berikut adalah penyelamat kewarasan saya.
Semoga kita dikembalikan ke distorsi yang ‘benar’ dan
terbebas dari godaan pasar yang terkutuk.
Amin.