Rock-n-Roll Exhibition: PRIMA YUDHISTIRA

Edition: December 30, 2009

Rock-n-Roll Exhibition: PRIMA YUDHISTIRA
Born to Lose: Erase/Replace

:: Playlist, notes, and (most) photos, handpicked and written by Prima Himself ::

…I wish I had more time to choose the songs in the list but even if I did,
I will still need more time for the songs to be aired.
2 hours is not enough, and I realize thats the fun of it 🙂

Enjoy my rush hour; I think it defines me and my music well.

Playlist taken from the selfburned cd’s in my car,
these are the sound that i’ve heard and makes my day.
Easy to listen, hard to forget…

/rif: Tujuh, Cadas, & Ramah Pasar Gelap

/rif (Rhythm in Freedom) adalah salah satu grup musik cadas lokal yang masih kekal bertahan hingga hari ini. Koalisi musisi asal Bandung ini telah 18 tahun mengarungi derasnya arus blantika berkesenian Indonesia. Mengejutkan publik muda dan tua pertama kali lewat album debut via Sony Music Indonesia, Radja, dengan single bertitel sama pada 1997, hingga karya yang ke-6, Pil Malu, pada 2006.

Belakangan, di tahun 2010 ini, santer tersiar kabar Andy (vokal), Jikun (gitar), Ovy (bas), serta Maggi (drum), sedang masif menghabiskan waktunya di studio dalam rangka menyelesaikan album terbarunya. Mari kita cari tahu kebenarannya.

Blitzkrieg 3-Chords Gabba Gabba Hey

Semua bermula di klub CBGB, New York, tanah Paman Sam alias Amrik. Saat itu, sekitar 1974, band sebangsa Ramones, Talking Heads, Television serta penulis puisi merangkap penyanyi bernama Patti Smith, telah ofensif menggugah pemerhati musik Rock dengan konsep bermusik “marah, murah, meriah”nya (komplet dengan lirik bersahaja namun jujur bin “nendang”). Jaman itu, formula minimalis sedemikian rupa bukan hal lazim.

Moshpit Mavericks

Artikel yang saya tulis dan mengulas tentang album kompilasi MOSHPIT MAVERICKS ~ Celebrating 1 Year+ A Rock Society ini sejatinya adalah artikel lawas, dirilis pertama kali di sebuah September 2007. Tulisan ini saya pikir penting untuk ditayangkan kembali 3 tahun setelahnya, sebab dari sini bisa pula disimak progresi skena musik—tepatnya musik Rock—Bali. A Rock Society sendiri merupakan program pertunjukan musik hidup bulanan bertempat di The Wave yang konsepnya dibikin serta dieksekusi oleh Windu dengan The Blado (permufakatan kerja seni—meliputi event organizer, label rekaman independen, dsb—antara Igo dan saya) serta disponsori oleh A Mild Live Production.

Wednesday Nite! Inspirations/Mutations!

Upcoming Rock-n-Roll Exhibition: S. GAMBOA a.k.a. STEVIE G.
Inspirations/Mutations

:: Playlist, notes, & photos, handpicked & written by Stevie Himself ::

This selection of tracks is a synoptic reflection of the music and bands that greatly influenced me as a youth playing in punk bands in Washington, DC from 1988 – 2000.

Growing up in ‘The Chocolate City,’ a southern town with an incredible musical legacy the likes of Duke Ellington, Marvin Gaye, Go-Go and D.C. Hardcore, I was very fortunate to have been exposed to a diverse range of music from my peers in the D.C. scene where I was brought up with the understanding that being a punk rocker meant not only that you listened to punk rock, but were also open to listening to all underground music regardless of genre, an ideology that I still maintain today as an active DJ. While it’s impossible to list most of the songs that influenced me during this period that was the most formative phase of my life, this playlist gives you a brief but personal idea of the groups and individuals that impacted my musical direction, manifested my politics, determined my style and made it on the tour van mix tapes.

Hope you can dig on it…

Rock-n-Roll Exhibition: OTONG KOIL

Edition: March 24, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: OTONG KOIL
top ov the pops

:: Playlist & notes, handpicked & written by Otong Himself ::

sepeerti nonton inbox
ini lagulagu pop yg super katchy di telinga
melodi yg manis lirik yg brilliant
kalo kamu tida suka sebaeknya kamu ngarang lagu sendiri aja

The Flowers Kembali Datang, Berdendang & Menang

Adalah kisah jamak ketika sebuah grup musik—dalam konteks ini musik cadas—yang dulu pernah besar, sempat mencicipi segepok fame & fortune, kangen untuk kembali tampil di depan publik seraya berharap semoga ketenaran dan kesejahteraan bermurah hati menghampiri kembali. Namun dalam prakteknya, sebagian penggemar di masa lalu sudah beranjak uzur serta lebih memilih menjalani hidup “normal”, menjauh dari segala gemah ripah Rock-n-Roll. Sementara generasi yang lebih muda justru gersang rasa kedekatan dengan band baheula tersebut. Adalah kisah jamak pula ketika pada akhirnya mimpi menggapai bintang untuk kali kedua berakhir menjadi sekadar ilusi.

Tomorrow Nite! If That Is What Is Being Thought, Liberated Sound Talks The Depth Of “Musical” World!

Upcoming Rock-n-Roll Exhibition: RYAN KOESUMA
If That Is What Is Being Thought, Liberated Sound Talks The Depth Of “Musical” World

:: Playlist & notes, handpicked & written by Ryan Himself ::

When my good rock guru Rudolf Dethu, made a follow up program of his Rock chronicles “Clash Pistol”, and started to invite some of the notorious mavericks (or charlatans if you like) in the local music industry to guest-edit the program “The Block Rockin’ Beats : Rock-n-Roll Exhibition”, I said to myself, “Hey, I could do this too!”. But then I realized that I came from a totally different generation (the so-called Generation Y) from most of the guys (the so-called Generation X). I had never heard most of the stuff they came up with. Continuing the habits of exposing and preaching the romanticized names on rock history (most of them you’d probably haven’t heard also, if your were my age) would be very [lebay].

So when the opportunity came, instead of pretending and boasting my knowledge down on the Rock Memory Lane, I decided to narrow the lists to my personal, naive musical preferences. Some of you may judge this as banal guilty pleasures, but hey, I come from where everything is available in an instant, and these are what I had actually listened to. I could make a couple more playlists and this is just the first of (hopefully) many.

Mo’ Mohawk, Mo’ Mohican

Sebagian sejawat pasti amat kenal grup musik The Exploited. Benar, kontingen asal Edinburgh, Skotlandia, tersebut merupakan entitas yang amat disegani hingga kini dan sering disebut sebagai salah satu pionir Punk Rock. Oleh penganut “sekte” Street Punk, gaya rambut sang vokalis, Wattie Buchan, bak dijadikan identitas resmi, simbol paling sahih.

Lalu band-band dengan kadar ekstrem setingkat, bak terbawa arus. Sebut saja misalnya The Casualties dan projek sampingan gitaris Rancid, Lars Frederiksen & The Bastards.

Apa julukan rambut bak cendrawasih itu? Di Amerika disebut Mohawk. Sementara di Inggris lebih dikenal dengan Mohican.

Naif Menyongsong Planet Cinta

Total bicara soal cinta, demikian ungkap Naif mengenai albumnya yang akan datang. Planet Cinta, seolah berusaha menegaskan, disepakati dipakai sebagai judul.

Besutan ke-9 yang rencananya dirilis Februari lalu, rupanya sedikit mengalami perubahan jadwal. Hingga berita ini diturunkan, kabarnya David, Jarwo, Emil & Pepeng, masih berkutat di proses mixing.

Disebutkan pula bahwa jika semua berjalan lancar akan ada 10 lagu menghiasinya. Dan yang agak berbeda dari yang sudah-sudah, seperti disebutkan di atas, temanya melulu soal asmara. Sementara ramuan retro 80an khas Naif tetap jadi resep unggulan.

Tonite! Bhinneka Tunggal Rocka!

Upcoming Rock-n-Roll Exhibition: FIRMAN PRASETYO
Bhinneka Tunggal Rocka

:: Playlist & notes, handpicked & written by Firman Himself ::

Saya adalah seorang anak tunggal.

Orang bilang jadi anak tunggal itu selalu dimanja dan enak. Enak matamu kuwi. Well, fuck me. Saya tidak pernah dimanja di rumah. Tapi untuk urusan musik, saya mendapat kehormatan layaknya raja. Ada satu pesawat televisi dan satu perangkat pemutar kaset di ruang tengah rumah saya. Yang satu dipake simbok buat nonton sinetron, satu lagi murni otoritas almarhumah Mamah. Beliau membiarkan radio menyala hampir setiap saat. Hanya berhenti ketika waktu tidur tiba, rumah kosong ditinggal bepergian, rusak atau mati lampu. Dari situlah semua racun bernama musik ini menyebar dan akut menginfeksi.
Lazimnya tiap bocah lelaki yang beranjak dewasa dan belajar memberontak (dulu, alay itu dikenal dengan nama ABG), saya mulai kenal musik Rock dengan puluhan anak cabangnya. Saya juga mulai bergaul dengan preman kampung dan jagoan di sekolah. Mendengarkan musik cadas sambil begajulan. Keliatan keren kan cyiiin?

Waktu berlalu. Referensi musikal datang silih berganti. Trend datang dan pergi. Setiap genre diuji dengar. Semua aliran rakus dilahap. Aduk racik jadi satu masuk kuping. Bhinneka Tunggal Rocka, berbeda-beda tapi larinya ke Rock juga.
Hingga akhirnya semua itu sempat membawa saya duduk di kursi music director di sebuah radio di kota Solo. Instansi dimana saya bebas menyusun playlist harian untuk memprovokasi agar pendengar sejenak terdistraksi dari Anang — Syahrini dan kembali mendengarkan Morrissey. Dasar penyusunan playlist ini adalah, percaya atau tidak, hanya berdasarkan mood dengan bahan yg diambil dari folder lagu-lagu favorit sepanjang masa. Karena untuk meringkas semua lagu-lagu favorit dan bersejarah hanya ke dalam 120 menit adalah hil yang mustahal, meminjam slogan Asmuni.
Jadi, selamat menikmati, cuk.

Rock-n-Roll Exhibition: SOLEH SOLIHUN

Edition: February 17, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: SOLEH SOLIHUN
Sebuah Pengakuan untuk Mendapat Pengakuan

Membuat playlist model begini, identik dengan pamer referensi. Apalagi judulnya yang super canggih: Rock-n-Roll Exhibition, lengkap dengan seorang kurator yang menyebarluaskan playlist ini ke orang-orang yang dianggap kredibel dan kompeten soal musik. Wuih, ngeri.

Ini adalah jawaban untuk pertanyaan beberapa orang soal musik yang saya sukai. Pada dasarnya, saya menyukai rock n’ roll music (film Grease (1978) yang saya tonton sewaktu SD bertanggungjawab atas ini). Nama-nama di bawah ini, saya kenal sebagian besar melalui pergaulan. Saya bukan tipikal pecinta musik yang sejak kecil mengoleksi kaset. Uang jajan pas-pasan jadi salah satu faktor utama. Akibatnya, masa kecil saya lebih banyak mendengarkan apa yang ada di radio atau kaset yang dibeli bapak saya.

Lalu di masa SMP kelas 1, karena dipaksa ikut pesantren kilat selama sebulan, saya jadi merasa berdosa mendengarkan musik sepulangnya dari sana (tak heran, sebulan saja bisa berdampak begitu, apalagi yang bertahun-tahun). Maklum, mereka tipikal pesantren yang mengharamkan musik. Seingat saya, instrumen musik mereka haramkan, yang boleh hanya rebana. Padahal setelah dipikir-pikir, gitar listrik memang belum ditemukan di jaman Nabi. Lalu saya hanya mendengarkan Iwan Fals dan Slank, karena saya pikir mereka itu beragama Islam, jadi mungkin dosanya tak terlalu besar. Teman sebangku saya di SMP mendengarkan Misfits, Guns N Roses, Faith No More, Nirvana hingga Ugly Kid Joe dan segala macam musik yang sedang tren di awal ’90-an, tapi saya berusaha menahan diri supaya tak tergoda. Selepas SMA, karena daya tarik itu semakin besar atau mungkin juga karena iman saya yang semakin berkurang barulah saya membuka diri terhadap musik-musik yang bukan dimainkan oleh orang Islam. Dan saya menyesal karena tak membuka diri pada rock n’ roll sejak dulu. Pelajaran berharga: fasis sayap kanan kurang tahu cara bersenang-senang.

Dan ini adalah beberapa lagu dari musisi atau kelompok musik yang ketika mendengarkan karya-karya mereka untuk kali pertama memberikan sensasi berdebar yang semakin membuat penasaran serta akhirnya selalu bisa menimbulkan perasaan senang buat saya. Suara gitar yang kasar, vokal yang tak manis [saya kurang suka penyanyi pria dengan gaya bernyanyi syahdu manis plus improvisasi vokal yang bergetar], lirik yang bagus, serta semangat lagu yang agresif adalah beberapa hal yang sering mudah menarik telinga saya.

Scroll to Top