RDbw

About

A music journalist, writer, radio presenter, vinyl DJ, socio-political activist, creative industry leader, band manager, and library diploma holder heavily draws inspiration from punk rock philosophy. Often tagged as the Indonesian version of Malcolm McLaren—or, as Rolling Stone Indonesia put it, the grand master of music propaganda—he is perhaps best known for previously managing Bali’s two biggest bands, Superman Is Dead and Navicula, who have gone on to become two of the nation’s biggest rock bands. The band he now manages is The Hydrant, the pioneer of rockabilly in Indonesia.

27ForeverClub

27 Club

Iya, 27 tahun adalah usia ideal untuk mati. Lihat Kurt Cobain. Atau Jimi Hendrix. Atau Jim Morrisson. Ketiganya mangkat ketika menginjak usia 27 tahun, umur yang menurut perspektif normal justru dikategorikan "produktif", sedang segar-segarnya untuk bergiat melakoni hidup. Fenomena ganjil "wafat di usia 27" yang banyak terjadi pada musisi rock ini oleh pengamat subkultur diistilahkan dengan 27 Club---sebagian menjuluki sebagai Forever 27 Club.

Rock-n-Roll Exhibition: ATHRON MCCANN

Edition: October 28, 2009Rock-n-Roll Exhibition: ATHRON MCCANNWhy Sing It When You Can SCREAM IT!:: Playlist, intro, song descriptions, and (most) photos, written and handpicked by Athron Himself :: ...Paying respect to those who know how to get their point across…

Sampul Album Cadas Monumental: MASTER OF PUPPETS

Yang masih diingat oleh Donald P. Brautigam agak samar adalah, suatu hari di pertengahan tahun 1985, Don diminta oleh manajemen Metallica untuk mendesain sampul album Master of Puppets. Tanpa secuilpun sempat mendengarkan "colongan" tembang-tembang dari album yang kini menjadi salah satu jejak monumental thrash metal, Don berangkat mengerjakannya menggunakan medium acrylic, airbrush dan paintbrush. Artis lulusan The School of Visual Arts tahun 1971 ini cuma butuh 3 hari untuk menyelesaikannya (seraya mengerjakan projek komersial lainnya).

Superman Is Dead: Semangat Pantang Mundur & Seni Mengelola Ego

Jangankan untuk skala lokal Bali, dalam lingkup nasional sekalipun cuma ada sedikit band yang mampu melewati satu dasa warsa. Superman Is Dead (SID) adalah satu dari segelintir kelompok musik yang sanggup eksis bukan hanya melewati rentang sepuluh tahun tapi juga, hebatnya lagi, dengan personel yang sama, tak berubah, sejak awal berdiri.

Apa Kabar CBGB

Foto kiri: Patti Smith saat CBGB ditutup pada 15 Oktober 2006CBGB memang sudah tutup usia pada 2006. Klub legendaris tersebut, menurut sang pendiri, Hilly Kristal, rencananya dipindah ke Las Vegas. Tapi dia keburu meninggal. Saya kurang tau apa akhirnya jadi dipindah ke Vegas apa tidak (maybe you guys know?). Namun tepat di lokasi dimana CBGB dulu berada, 315 Bowery, Bleecker Street, Manhattan, New York City; sekarang sudah diambil alih oleh John Varvatos, salah satu desainer pakaian terpanas di Amrik saat ini---yang belakangan juga nyumbang rancangannya untuk Converse kelas premium (dengan label: Converse by John Varvatos) yang tentu saja harganya lebih mahal dari biasanya.

The Day the Music Died

Pada 3 Februari 1959 terjadi sebuah kecelakaan pesawat terbang di sekitar Clear Lake, Iowa, Amerika Serikat. Musibah tragis itu merenggut nyawa tiga musisi terkenal di era tersebut yaitu Buddy Holly, Ritchie Valens serta J.P. Richardson a.k.a The Big Bopper. Bisa jadi karena 3 artis yang mempunyai nama besar tewas sekaligus secara bersamaan maka gelagat pesimistik langsung menyeruak di banyak orang seolah serentak menyimpulkannya sebagai: the day the music died.

Pompadour d’Amour

Jika belakangan ini anda berkunjung ke Bali anda pasti akan cukup sering berpapasan dengan anak muda yang menyisir klimis rambutnya, pekat mengingatkan pada gaya rambut Elvis Presley atau para personel Stray Cats, atau konseptor Social Distortion, Mike Ness. Tahukah anda bahwa gaya rambut---yang juga sempat dipakai sebagai identitas khas oleh The Changcuters---itu memiliki sebutan spesifik bertajuk Pompadour?
BitzMegaplex

Blitz Megaplex a.k.a. Aku Cinta Jakarta

Kebetulan tidak jauh dari tempat saya biasa numpang tinggal di Jakarta, di Kebayoran Baru, belum lama ini dibuka mal baru kelas premium, Pacific Place. Nah, di lantai 6 (atau 7?) terdapat jaringan bioskop rivalnya kelompok Cineplex 21 bernama Blitz Megaplex yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Ananda Siregar, anak mantan gubernur Bank Indonesia Arifin Siregar. Yang saya suka dari Blitz Megaplex di antaranya adalah konsep interiornya yang post-mo (well, saya sebenernya gak terlalu paham apa mazhab arsitektur tersebut tepat untuk menyebut gaya yang dianut blitzmegaplex, pokoknya modern minimalis, banyak bentuk kubus, dim lighting, aksen metal di beberapa sudut, sedikit futuristik). Seolah kita sedang berada di tempat berbeda, di megapolitan makmur mana gitu. Pokoknya kayak bukan di Jakarta. Sentuhan artistik millenium namun tetap relatif hangat. Masih cukup bernyawa. Kalo di musik mungkin bisa diumpamakan sebagai post-punk (think Talking Heads, The Fall, New Order, Public Image Ltd.). Tetap tersimak nyeni, tidak kelewat sintetik. Tidak sedingin komposisi, katakanlah, Gary Numan. See what I mean?

Cannes, Mix and Mismatch

Berikut saya sisipkan beberapa foto para The Beautiful People saat menghadiri festival film Cannes dari tahun ke tahun. Artikel ini dipinjam dari men.style.com (portal virtual untuk majalah pria Details & GQ). Menurut men.style.com festival film Cannes tak melulu tentang motion picture an sich, tapi juga tentang sang bintang beserta busananya...
MenTempeh-food

Manic-ass Men Tempeh

Berikut adalah tulisan tentang Men Tempeh yang tadinya hendak saya sertakan di Bali A to Z part 3. Cuman karena projek tulisan itu (sudah mulai ditulis sejak pertengahan 2007) masih tertunda hingga detik ini, biar gak basi, salah satu topik bahasannya, Men Tempeh, tak share aja dah. Mind you, saat tulisan ini dibuat, Men Tempeh sedang dalam transisi dari sekadar "warung makan" (pretty much uncivilized) naik pangkat menjadi "restoran" (civilized, most likely). Sekarang sih Men Tempeh sudah lumayan flashy (should I say, tackily flashy? Ada gak bahasa Inggris seperti itu? Hiks). Yeah, it's still a bit tacky. Tapi persetanlah, yang penting makanannya---meniru gaya Enny Arrow---enaakhsss...

Mullet Mania

Masih ingat MacGyver? Oh bukan, saya sedang tak bicara aktingnya (yang garing). Tapi saya ngomong soal gaya rambutnya. Gaya rambut MacGyver yang pendek di depan, atas, dan samping namun panjang di belakang punya istilah khusus: Mullet. Dan kerap ditimpali dengan dengan kelakar lanjutan semacam, “Business in the front, party in the back” (deskripsi yang jitu, eh?)

Sampul Album Cadas Monumental: APPETITE FOR DESTRUCTION

Robert Williams, alumni Los Angeles City College sekaligus pendiri majalah Juxtapoz, berkilasbalik bahwa kontaknya dengan Axl Rose & co. pertama kali terjadi pada 1987. Robert, kala itu masih berusia 44 tahun, dihubungi oleh penerbitnya yang bilang bahwa sebuah grup band hard rock bernama Guns N' Roses tertarik memasang salah satu gambar kartun dari buku kumpulan karyanya yang diterbitkan pada 1979, The Lowbrow Art of Robert Williams. Khususnya satu bagian dari seri Super Cartoons yang bertitel Appetite for Destruction.

Rima Bebas PKS: Vodka, Warsawa, Stolichnaya

Sehubungan dengan mikol (akronim dari "minuman beralkohol"---lebih beradab dikit dari "miras/minuman keras", mind you), sejujurnya saya bingung harus mendiskreditkan si Bapak Dirjen Bea Cukai, Anwar Suprijadi, atau gimana. Manuver bersih-bersih beliau terhadap jajarannya memang lumayan ampuh menekan tingkat pat-gulipat, efektif mengurangi korupsi yang telah amat kronis merasuki departemennya. Namun di sisi lain saya---dan pasti juga sejawat penggemar mikol sekalian---jadi kelimpungan banget karena gerak berantas KKN tersebut merembet kepada minimnya ketersediaan booze di pasaran. Jangankan bermimpi mengkonsumsi Jim Beam Black---apalagi edisi khusus Jim Beam yang lain yang juga yum yum: Jacob Beam---bisa dapet wiski yang standar aja macem Red Label, wih, di Bali tuh susah banget. Kalopun ada, duh gusti, harganya udah anjing melambung. Sempat melangit hingga Rp 500 ribu, kemudian nyungsep lagi ke Rp 350 ribuan. Itu aja masih mahal sebab biasanya sekitar Rp 135 ribuan. Gokil.
RDbw

About

Music journalist, writer, radio DJ, socio-political activist, creative industry leader, and a qualified librarian, Rudolf Dethu is heavily under the influence of the punk rock philosophy. Often tagged as this country’s version of Malcolm McLaren—or as Rolling Stone Indonesia put it ‘the grand master of music propaganda’—a name based on his successes when managing Bali’s two favourite bands, Superman Is Dead and Navicula, both who have become two of the nation’s biggest rock bands.

rudolfdethu

Scroll to Top